Muara Enim (Kemenag Sumsel) —
Hari kedua pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) di MIN 1 Muara Enim, Jumat (17/7/2026), para peserta mendapatkan penguatan materi mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta melalui dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian KKG bertema “Aktualisasi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Penguatan Profesionalisme Guru dan Tenaga Kependidikan” yang diikuti oleh guru dari MIN 1 Muara Enim, MI YPITR Tanjung Enim, MI YPITR Tanjung Raja, dan MI Darul Ulum.
Sesi pertama menghadirkan Miliana, Pengawas MIN 1 Muara Enim, yang mengupas peran strategis guru dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Menurutnya, keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh perangkat pembelajaran, tetapi juga oleh keteladanan dan kepedulian guru dalam mendampingi setiap murid.
Miliana menjelaskan bahwa dalam Kurikulum Berbasis Cinta, guru memiliki enam peran utama, yaitu sebagai teladan, fasilitator pembelajaran, pembimbing, motivator, pembangun karakter, serta mitra bagi orang tua dan masyarakat. Keenam peran tersebut saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan mampu mengembangkan potensi murid secara utuh.
“Guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan keteladanan dan kasih sayang dalam setiap proses pembelajaran. Ketika guru mampu menjadi sosok yang menginspirasi dan membangun kedekatan dengan murid, maka pendidikan karakter akan tumbuh secara alami,” jelas Miliana.
Materi berikutnya disampaikan oleh Kaisar, Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Kabupaten Muara Enim. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami filosofi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai pendekatan pembelajaran yang menempatkan nilai kemanusiaan, empati, dan penghormatan terhadap setiap anak sebagai fondasi pendidikan.
Menurut Kaisar, Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar perubahan konsep pembelajaran, melainkan perubahan cara pandang guru dalam mendidik. Guru diharapkan mampu menciptakan ruang belajar yang membuat murid merasa dihargai, didengarkan, dan didampingi untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
“Ketika cinta menjadi dasar dalam proses pendidikan, maka pembelajaran tidak lagi hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, dan menciptakan kebahagiaan dalam belajar,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan melalui berbagai diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Beragam pengalaman dan praktik pembelajaran di madrasah turut dibahas sebagai upaya memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di ruang kelas.
Melalui penguatan materi pada hari kedua ini, diharapkan para guru semakin memahami peran pentingnya sebagai pendidik sekaligus pembentuk karakter. Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran yang berlandaskan kasih sayang, KKG di MIN 1 Muara Enim diharapkan mampu melahirkan guru-guru yang profesional, adaptif, dan siap menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap murid. (LA)
